Beranda Daerah Kades Sukorejo Madiun Ajak Orang Tua Perkuat Pendidikan Agama Anak di Era...

Kades Sukorejo Madiun Ajak Orang Tua Perkuat Pendidikan Agama Anak di Era Digital

MADIUN – Semangat menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah terasa begitu hangat di halaman Masjid Baiturrahim, Dusun Ngepeh, Desa Sukorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Rabu (8/7/2026) malam.

Ratusan warga memadati lokasi untuk mengikuti Pengajian Akbar dan Santunan Anak Yatim Piatu serta Dhuafa ke-IX yang diselenggarakan TPQ Hidayatul Umam.

Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun itu tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat pendidikan agama sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial terhadap anak yatim piatu dan masyarakat kurang mampu.

Acara dihadiri penceramah Gus Faisol Amir dari Dolopo, para ulama, tokoh agama, Kepala Desa Sukorejo Yoyon Mahmudi, S.Sos., pengurus TPQ Hidayatul Umam, takmir Masjid Baiturrahim, wali santri, tokoh masyarakat, hingga ratusan jamaah dari berbagai wilayah sekitar.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sukorejo Yoyon Mahmudi memberikan apresiasi kepada seluruh ustaz, ustazah, serta pengurus TPQ Hidayatul Umam yang selama ini istiqamah membimbing anak-anak mempelajari Al-Qur’an dan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, pendidikan agama menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda, terutama di tengah derasnya perkembangan teknologi dan informasi yang membawa banyak tantangan bagi kehidupan anak-anak.

“Anak-anak kita adalah generasi penerus bangsa yang harus dipersiapkan sejak dini. Di era digital seperti sekarang, mereka membutuhkan pondasi agama yang kuat agar tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif. Pendidikan agama menjadi bekal utama menuju masa depan yang lebih baik,” ujar Yoyon.

Ia pun mengajak seluruh orang tua untuk terus mendukung putra-putrinya mengikuti pendidikan di TPQ secara rutin.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama tidak cukup hanya mengandalkan guru mengaji, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dalam memberikan motivasi dan pendampingan kepada anak.

Selain menyoroti pentingnya pendidikan agama, Yoyon juga memaparkan komitmen Pemerintah Desa Sukorejo dalam membantu masyarakat kurang mampu melalui program sosial KPN Barokah.

Melalui program tersebut, sedekah, infak, dan zakat yang dihimpun masyarakat dikelola untuk kemudian disalurkan kepada anak yatim piatu maupun kaum dhuafa yang membutuhkan.

“Semoga program ini terus berkembang sehingga manfaatnya semakin luas dan mampu membantu masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala TPQ Hidayatul Umam, Kiai Ahmad Poniran, mengaku bersyukur kegiatan santunan dan pengajian akbar yang telah memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan dapat kembali terlaksana dengan lancar.

Dia menyampaikan penghargaan kepada seluruh panitia, donatur, dan masyarakat yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, pikiran, maupun bantuan materi.

“Semoga semua bantuan dan pengorbanan yang diberikan menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Ahmad Poniran juga menyampaikan pesan khusus kepada para wali santri agar memberikan kesempatan kepada anak-anak mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran di TPQ hingga selesai.

Dirinya menjelaskan bahwa proses belajar tidak berhenti setelah membaca dan menulis Al-Qur’an, tetapi masih dilanjutkan dengan doa bersama sebagai bagian dari pembentukan karakter dan pembiasaan ibadah.

Karena itu, ia berharap para orang tua tidak terburu-buru menjemput anak sebelum seluruh kegiatan belajar selesai, kecuali dalam kondisi yang benar-benar mendesak dan telah memperoleh izin dari ustaz maupun ustazah.

Pesan senada juga disampaikan Gus Faisol Amir dalam tausiyahnya.
Mengawali ceramah dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, ia mengingatkan pentingnya menghadiri majelis ilmu sebagai sarana meningkatkan keimanan sekaligus memperbaiki akhlak.

Menurutnya, pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan.

Ia menilai masih ada sebagian wali santri yang kurang memahami pentingnya menghormati proses belajar mengajar dengan menjemput anak sebelum kegiatan selesai.

“Ketika anak sudah diserahkan kepada guru untuk belajar, maka selama proses pendidikan berlangsung hendaknya orang tua memberikan kepercayaan penuh kepada para pendidik. Jangan mengganggu jalannya pembelajaran kecuali memang ada keadaan yang sangat mendesak,” pesannya.

Selain diisi tausiyah keagamaan, kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan santunan kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Suasana penuh haru terlihat ketika para penerima santunan menerima bantuan yang berasal dari kepedulian masyarakat dan para donatur.

Melalui Pengajian Akbar dan Santunan Anak Yatim Piatu serta Dhuafa ke-IX ini, TPQ Hidayatul Umam berharap semangat mencintai Al-Qur’an terus tumbuh di tengah masyarakat.

Sinergi antara orang tua, guru, pemerintah desa, tokoh agama, dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan generasi Qurani yang berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, serta siap menghadapi tantangan zaman dengan bekal ilmu agama yang kuat. (Kun)