Beranda Infotaiment Rahasia Kenikmatan Sego Buwuhan Bojonegoro, Perpaduan Momoh Tempe dan Wangi Daun Jati...

Rahasia Kenikmatan Sego Buwuhan Bojonegoro, Perpaduan Momoh Tempe dan Wangi Daun Jati yang Legendaris

BOJONEGORO – Jika Yogyakarta punya Gudeg dan Solo punya Nasi Liwet, maka Bojonegoro memiliki Sego Buwuhan.

Kuliner yang satu ini bukan hanya pengganjal perut, melainkan simbol kebersamaan dan tradisi masyarakat “Kota Ledre” yang kini telah naik kelas menjadi primadona wisata kuliner.

Secara etimologi, kata “buwuh” dalam bahasa Jawa berarti menyumbang atau datang ke hajatan (pernikahan atau khitanan) dengan membawa bingkisan.

Dahulu, Sego Buwuhan adalah berkat atau buah tangan yang dibawa pulang oleh tamu undangan setelah menghadiri acara hajatan tersebut.

Karena rasanya yang khas dan dirindukan banyak orang tanpa harus menunggu adanya undangan pernikahan, warga lokal mulai mempopulerkannya sebagai menu harian yang dijual di warung-warung.

Apa yang membuat Sego Buwuhan begitu istimewa, kuncinya terletak pada kesederhanaan bahan namun kaya akan rempah.

Satu porsi Sego Buwuhan biasanya terdiri dari nasi putih hangat sebagai dasar hidangan.

Momoh tempe, tempe yang dimasak dengan bumbu merah pedas manis, memberikan tekstur yang lembut namun kaya rasa.

Mie kuning, tumis mie sederhana yang menambah tekstur dalam setiap suapan.

Sayur tewel (nangka muda), lauk wajib yang dimasak dengan kuah santan kental yang gurih.

Daging sapi atau satay, biasanya berupa potongan daging sapi yang dimasak empuk atau sate daging.

Peyek atau kerupuk, sebagai pelengkap kriuk yang tidak boleh ketinggalan.

Ciri khas utama yang tidak bisa dipisahkan dari Sego Buwuhan yang autentik adalah penyajiannya menggunakan daun jati.

Aroma alami dari daun jati yang terkena uap nasi hangat memberikan sensasi wangi yang khas dan dipercaya menambah nafsu makan.

Selain itu, penggunaan daun jati merupakan warisan turun-temurun masyarakat Bojonegoro yang memanfaatkan hasil hutan jati yang melimpah di wilayah tersebut.

Kini, Sego Buwuhan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda asli Bojonegoro.

Bagi wisatawan, mencari hidangan ini sangatlah mudah. Mulai dari warung kaki lima di pinggir jalan hingga restoran di pusat kota menyajikan menu ini sebagai menu andalan.

Harganya pun sangat terjangkau, biasanya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi, tergantung pada pilihan lauk tambahan yang diinginkan.

Sego Buwuhan paling nikmat disantap di pagi hari sebagai sarapan, ditemani dengan segelas teh hangat dan suasana pedesaan Bojonegoro yang tenang. (mia)