BOJONEGORO – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai malam penutupan rangkaian Field Assessment dan Validasi Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) Bojonegoro di kawasan wisata Kayangan Api, Rabu (29/7/2026).
Momen tersebut menjadi ajang memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan keramahan masyarakat Bojonegoro kepada tim asesor internasional.
Dua asesor UNESCO, Mr. Andreas Josef Schüller dari Jerman dan Ms. Li Yue dari China, tidak hanya menikmati jamuan khas daerah.
Keduanya juga ikut merasakan pengalaman memainkan alat musik tradisional Bojonegoro, menambah kesan mendalam selama proses penilaian lapangan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro, Edi Susanto, menyampaikan bahwa penyelenggaraan jamuan makan malam di Kayangan Api bentuk penghormatan sekaligus kesempatan memperkenalkan identitas Bojonegoro sebagai daerah yang kaya akan warisan geologi, budaya dan sejarah.
Menurutnya, Kayangan Api merupakan salah satu ikon Geopark Bojonegoro yang memiliki nilai ilmiah, budaya, hingga spiritual.
Fenomena api abadi yang telah menyala selama ratusan tahun menjadi bukti nyata sistem petroleum dangkal yang menjadi ciri khas Geopark Bojonegoro.
“Kami percaya pengelolaan geopark harus mampu menjaga keseimbangan antara konservasi, pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Edi.
Ia menegaskan, perjuangan menuju pengakuan UNESCO Global Geopark bukan semata mengejar status internasional.
Lebih dari itu, pemerintah bersama masyarakat berkomitmen menjaga kelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya agar tetap terpelihara dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Edi juga berharap seluruh tamu dapat menikmati pesona Kayangan Api, mengenal seni budaya, mencicipi kuliner khas Bojonegoro, sekaligus merasakan keramahan masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.
Dalam sambutannya, Mr. Andreas Josef Schüller mengaku terkesan dengan perjalanan panjang Bojonegoro dalam mengembangkan geopark.
Dia mengingatkan bahwa sejak meraih status Geopark Nasional pada 2017, Bojonegoro tidak berhenti berbenah dan terus melangkah menuju target yang lebih tinggi, yakni menjadi bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark.
Selama dua hari melakukan asesmen lapangan, Andreas mengaku melihat banyak situs geologi yang luar biasa.
Namun menurutnya, kekuatan sebuah geopark tidak hanya diukur dari keunikan bentang alamnya.
Dirinya menilai Bojonegoro juga berhasil menghadirkan unsur penting lain seperti pendidikan bagi generasi muda, kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam penelitian, hingga pelestarian budaya melalui kegiatan membatik yang sempat ia coba secara langsung.
Hal yang paling berkesan baginya adalah tingginya keterlibatan masyarakat di setiap lokasi yang dikunjungi.
Menurut Andreas, berdasarkan pengalamannya sebagai asesor di berbagai negara, dukungan masyarakat lokal merupakan salah satu faktor paling penting dalam keberhasilan pengembangan geopark.
Selama berada di Bojonegoro, ia melihat komitmen tersebut hadir di hampir seluruh titik yang dikunjungi.
Masyarakat, pemerintah, akademisi, hingga berbagai pihak lainnya menunjukkan semangat yang sama dalam menjaga dan mengembangkan kawasan geopark.
Pengalaman tersebut membuatnya optimistis Geopark Bojonegoro memiliki peluang yang baik untuk memperoleh hasil positif dalam proses penilaian.
Meski demikian, Andreas menegaskan bahwa tim asesor bukanlah pihak yang menentukan lolos atau tidaknya sebuah geopark menjadi UNESCO Global Geopark.
Seluruh hasil pengamatan akan disusun secara objektif dalam bentuk laporan resmi yang selanjutnya disampaikan kepada UNESCO Global Geopark Executive Council di Paris untuk diproses lebih lanjut.
Dia memastikan seluruh penilaian dilakukan secara profesional berdasarkan fakta di lapangan.
Namun, ia berharap hasil kerja keras Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama masyarakat dapat memperoleh apresiasi terbaik dari UNESCO.
Malam penutupan di Kayangan Api pun menjadi simbol kuat bahwa perjalanan Geopark Bojonegoro menuju panggung dunia tidak hanya ditopang oleh kekayaan alamnya, tetapi juga oleh semangat gotong royong, budaya yang tetap hidup dan komitmen masyarakat yang menjadi kekuatan terbesar menuju pengakuan internasional. (mia)
































