GORONTALO — Kerusakan yang muncul di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan, Kota Gorontalo, mulai menuai sorotan berbagai pihak.
Barisan Relawan Nusantara Raya (BRNR) Provinsi Gorontalo meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan proyek tersebut.
Sorotan itu muncul setelah bagian pondasi shelter docking di kawasan KNMP dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan arus air dan pasang laut dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi itu pun viral di media sosial dan memicu perhatian publik karena proyek tersebut belum lama diresmikan Presiden RI.
Sekretaris BRNR Provinsi Gorontalo, Arham Saidi, menilai evaluasi penting dilakukan untuk memastikan mutu pembangunan benar-benar sesuai standar dan tidak merugikan masyarakat nelayan yang menjadi penerima manfaat proyek.
“Pemerintah perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh agar diketahui apa penyebab kerusakan yang terjadi. Apalagi proyek ini baru saja diresmikan Presiden, sehingga kualitasnya harus benar-benar dipastikan,” ujar Arham, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, kerusakan yang terjadi di bagian pondasi shelter menjadi alarm serius bagi pemerintah dan pihak pelaksana proyek.
Ia menduga proses pengerjaan dilakukan terlalu cepat sehingga hasil pembangunan dinilai kurang maksimal.
“Jangan sampai proyek yang dibangun untuk kepentingan masyarakat justru cepat mengalami kerusakan. Kualitas pekerjaan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
BRNR juga meminta adanya pemeriksaan teknis secara detail terhadap konstruksi bangunan di kawasan KNMP Leato Selatan guna memastikan tidak ada potensi kerusakan lain di kemudian hari.
Arham menegaskan, pihaknya memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawal proyek strategis nasional agar berjalan sesuai tujuan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Sebagai organisasi nasional, kami memiliki tugas mengawal proyek strategis nasional agar benar-benar berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.
Tak hanya meminta evaluasi, BRNR juga menyatakan akan ikut mengawasi proses perbaikan fasilitas yang mengalami kerusakan agar dilakukan secara maksimal dan tidak sekadar tambal sulam.
“Kami akan mengawal proses perbaikan bangunan tersebut supaya pengerjaannya berjalan baik dan hasilnya benar-benar kuat serta tahan lama,” tambahnya.
Selain perbaikan, BRNR berharap pemerintah menyiapkan langkah antisipasi jangka panjang agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi, terutama mengingat kawasan tersebut berada di wilayah pesisir yang rawan diterjang arus dan pasang laut.
Sebelumnya, pondasi shelter docking di kawasan KNMP Leato Selatan dilaporkan rusak setelah hujan deras dan tingginya pasang air laut menggerus bagian bawah bangunan.
Kondisi tersebut sempat menjadi perhatian publik usai videonya beredar luas di media sosial. (Tim Sembilan)
































