BANTUL — Upaya mengatasi persoalan limbah industri batik di Bantul kini memasuki babak baru.
Indonesia Financial Group (IFG) bersama sejumlah anggota holding menghadirkan solusi nyata dengan membangun fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sentra Nayantaka Batik, Bantul.
Langkah ini bagian dari strategi besar mendorong industri batik di Bantul yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
IPAL dirancang sebagai sistem pengolahan limbah cair yang mampu menyaring berbagai zat pencemar sebelum air dibuang ke lingkungan.
Melalui kombinasi proses fisika, kimia, dan biologis, fasilitas ini efektif menekan kandungan berbahaya seperti Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), fenol, hingga minyak dan lemak.
Hasilnya, kualitas air limbah menjadi jauh lebih aman dan sesuai standar baku mutu lingkungan.
Tak main-main, IPAL yang dibangun IFG ini diklaim mampu mengurangi lebih dari 90 persen kadar pencemar limbah batik.
Capaian tersebut menjadi jawaban atas tantangan klasik industri batik yang selama ini kerap dikaitkan dengan pencemaran lingkungan.
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi pelaku usaha batik. Produksi yang lebih bersih akan membuka peluang pasar yang lebih luas,” jelasnya, Selasa, 21 April 2026.
Program ini terwujud melalui kolaborasi lintas sektor. IFG menggandeng sejumlah anggota holding seperti Jasindo, Jasa Raharja, Jamkrindo, dan Askrindo.
Tak hanya itu, dukungan juga datang dari Yayasan Inspirasi Anak Bangsa (YIAB) serta pemerintah daerah setempat.
Sinergi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat menjadi kunci dalam menciptakan dampak berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran IFG dalam ekosistem Danantara Indonesia.
Dampak kehadiran IPAL tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan.
Para pelaku UMKM batik kini memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan daya saing, terutama dalam memenuhi standar produksi ramah lingkungan yang semakin diminati pasar.
Lebih jauh lagi, program ini juga mendorong perubahan perilaku pelaku usaha melalui peningkatan pemahaman dan kapasitas dalam pengelolaan limbah secara bertanggung jawab.
Ke depan, model kolaborasi seperti ini diharapkan bisa diterapkan di berbagai sentra batik di seluruh Indonesia.
Dengan begitu, transformasi menuju industri berkelanjutan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terwujud dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian. (dtw)






























