BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bergerak cepat merespon keluhan warga terkait kelangkaan LPG 3 kilogram yang sempat terjadi di sejumlah wilayah.
Melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkop UM), Kabupaten Bojonegoro, langkah koordinasi langsung dilakukan bersama Pertamina untuk memastikan pasokan kembali stabil.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdagkop UM Bojonegoro, Ahmadi, menjelaskan bahwa kelangkaan tersebut dipicu oleh keterlambatan distribusi.
Faktor cuaca buruk disebut menjadi penyebab utama, lantaran kapal pengangkut LPG tidak bisa bersandar sesuai jadwal.
Meski sempat terganggu, kondisi kini mulai berangsur normal. Berdasarkan laporan dari pihak Pertamina, pengisian di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) telah dilakukan sejak Minggu, 15 Maret 2026.
Selanjutnya, distribusi ke agen hingga pangkalan di Bojonegoro resmi mulai berjalan pada Senin, 16 Maret 2026.
“Pasokan sudah mulai kembali normal dan distribusi ke agen serta pangkalan sudah berjalan,” terang Ahmadi, Selasa (17/3/2026).
Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut, Disdagkop UM juga mengambil sejumlah langkah strategis.
Masyarakat Bojonegoro dihimbau agar membeli LPG 3 kilogram hanya di pangkalan resmi guna menghindari kelangkaan buatan maupun lonjakan harga.
Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga telah mengajukan permintaan tambahan kuota LPG sebesar 3.879 metrik ton (MT) kepada Pertamina Patra Niaga.
Upaya pengawasan turut diperkuat melalui rapat koordinasi lintas sektor yang digelar pada 16 Maret 2026.
Tim dari Disdagkop UM Bojonegoro bahkan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi riil serta memantau perkembangan distribusi di masyarakat.
Langkah cepat ini diharapkan mampu menenangkan keresahan warga Bojonegoro sekaligus memastikan kebutuhan energi rumah tangga tetap terpenuhi, terutama menjelang momentum penting seperti bulan Ramadan dan Idul Fitri. (mia)
































