LAMONGAN – Suasana hangat penuh kekeluargaan dalam sebuah hajatan di Desa Pomahanjanggan, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, mendadak berubah menjadi horor kesehatan.
Puluhan warga terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala keracunan massal usai menyantap hidangan acara tasyakuran, pada Selasa (16/12/2025).
Gejala yang dirasakan warga hampir seragam, rasa mual yang hebat, pusing, muntah, hingga diare yang menyerang secara bersamaan tak lama setelah acara berakhir.
Banyak warga awalnya memilih bungkam dan bertahan di rumah karena mengira hanya mengalami masuk angin biasa atau kelelahan.
Rasa sungkan kepada tuan rumah membuat mereka enggan mengeluh.
Namun, benteng kesabaran itu runtuh saat kondisi fisik semakin memburuk dan jumlah korban terus melonjak.
Situasi mencapai titik kritis ketika tersiar kabar duka bahwa salah seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat kondisi yang drop.
Kabar ini sontak memicu gelombang kepanikan, membuat warga lainnya segera berbondong-bondong mencari bantuan medis di puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Berdasarkan data sementara, puluhan orang dilaporkan terdampak.
Belasan di antaranya harus menjalani perawatan intensif di ruang rawat inap karena kondisi dehidrasi berat, sementara sisanya diperbolehkan menjalani rawat jalan setelah mendapatkan tindakan darurat.
Kasi Humas Polres Lamongan Ipda M Hamzaid menyampaikan Pihak kepolisian dari Polsek setempat bersama tim medis dari Dinas Kesehatan langsung turun tangan melakukan investigasi di lokasi kejadian.
“Tim masih melakukan penyelidikan di TKP dan meminta keterangan saksi-saksi,” ujar Hamzaid, Sabtu (20/12/2025).
Tragedi di Desa Pomahanjanggan ini menjadi alarm keras bagi masyarakat.
Di balik tradisi berbagi dan niat baik dalam menggelar perjamuan, faktor kebersihan pengolahan serta penyajian makanan harus menjadi prioritas utama.
Keamanan pangan adalah benteng terakhir agar momen bahagia dan syukuran tidak berakhir menjadi duka yang mendalam bagi lingkungan sekitar. (epr)
































