BOJONEGORO – Di tengah derasnya budaya populer dan gempuran konten digital, nama Nurlila, guru Bahasa Jawa dan Seni Budaya di SMPN 5 Bojonegoro, muncul sebagai sosok yang melawan arus.
Perempuan yang akrab disapa Lila Kavya ini bukan sekedar pengajar, ia adalah penjaga api seni tradisi yang menyalakan kembali kecintaan murid-murid pada warisan budaya Jawa.
Lila, perempuan asal Desa Sidobandung, Kecamatan Balen, tak hanya piawai mengajar. Ia juga seorang sinden muda yang sering tampil dalam berbagai pagelaran, termasuk di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sebuah panggung bergengsi yang jarang diraih anak muda seusianya.
“Jadi guru dan sinden memang cita-cita dari kecil. Alhamdulillah dua-duanya berjalan bersama,” cerita Lila.
Kecintaan Lila pada seni tradisi tumbuh alami. Sejak kecil ia kerap diajak ayah, pakdhe, dan budhe untuk menghadiri tayub di kampung. Dari sanalah panggilan hatinya pada tembang Jawa tumbuh kuat.
Meski bakatnya terlihat sejak remaja, ia sempat belum diberi izin tampil karena masih terlalu muda. Baru pada usia 15 tahun, ia akhirnya menginjakkan kaki di panggung, membuktikan bakatnya di dunia seni hingga masa kuliah.
Sejak bergabung dengan SMPN 5 Bojonegoro pada 2018, Lila melakukan inovasi pembelajaran yang tak banyak dilakukan guru lain.
Dirinya mengemas seni tradisi dengan cara yang dekat dengan dunia anak-anak, menerjemahkan lagu-lagu asing ke bahasa Jawa, membuat cover kreatif, mengajak siswa menonton ketoprak, pameran seni, hingga sandur, menulis dan mementaskan drama Jawa, hingga menyiapkan pagelaran drama tari berbahasa Jawa.
Lila bahkan mengenalkan kesenian oklik khas Bojonegoro kepada murid, mengajak mereka tampil di Bojonegoro Cross Culture, sejajar dengan seniman dari Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan berbagai daerah Indonesia.
Tak berhenti di situ, ia aktif menghidupkan seni Langen Beksan Bojonegaran, membuat konten digital aksara Jawa, membuka ekstrakurikuler karawitan, dan membimbing siswa menulis buku antologi cerkak.
Bagi Lila, tantangan terbesar bukan soal murid, melainkan stigma masyarakat yang menganggap seni tradisi itu ketinggalan zaman.
Namun ia tak menyerah. Di tangan Lila, seni tradisi justru dikawinkan dengan musik modern, film animasi yang ditranskripsikan ke aksara Jawa, terjemahan dialog asing ke bahasa Jawa.
Hasilnya, minat siswa meningkat, bahkan banyak alumni yang masih konsultasi terkait konten Jawa hingga ada yang tampil di luar daerah.
Di bawah bimbingannya, siswa SMPN 5 Bojonegoro meraih berbagai prestasi, Juara 1, 2, 3 FLS2N kreasi musik tradisi, Juara 1 dan 2 pantomim Live Show Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Finalis 10 besar Langen Beksan Tayub Kabupaten Bojonegoro, Juara 3 Festival Pantomim Nasional UNESA, Harapan 1 pantomim FLS2N Kabupaten, dan sederet capaian lainnya.
Lila sendiri juga sering manggung di tempat prestisius seperti TMII, Gedung Kesenian Cak Durasim, hingga tampil bersama Pemkab Bojonegoro di berbagai kecamatan. Dia pernah terlibat dalam pertukaran budaya dengan mahasiswa Malaysia di Dolokgede.
Di momentum Hari Guru 25 November 2025, Lila menyuarakan harapannya, buka ruang untuk anak-anak mencintai seni tradisi. Lewat konten digital pun bisa. Tidak harus kaku, yang penting ruhnya sampai.
Ia berharap dukungan pemerintah untuk memperkuat program seniman masuk sekolah, yang dinilainya sangat efektif menemukan potensi seni anak sejak dini.
Di era digital yang serba cepat, sosok seperti Lila adalah bukti bahwa seni tradisi tidak mati, ia hanya menunggu tangan-tangan yang mau merawatnya. (sum)
































