Beranda Daerah Proyek Desa Panjang-Kedungadem Diserang Isu Negatif, Kades: Mereka Tak Tau Kondisi Lapangan

Proyek Desa Panjang-Kedungadem Diserang Isu Negatif, Kades: Mereka Tak Tau Kondisi Lapangan

BOJONEGORO – Pemerintah Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro – Jawa Timur, memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan di media yang menyebut pembangunan rabat beton di Dusun Malangbong tidak sesuai aturan.

Proyek yang menggunakan Dana Desa (DD) Tahap I Tahun 2025 itu merupakan akses jalan menuju Sendang, yang selama ini menjadi jalur vital warga setempat.

Kepala Desa Panjang Hari Hartono menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan telah dilakukan sesuai spesifikasi dan tidak ada pengurangan volume, justru harus bekerja ekstra karena kondisi alam yang sangat sulit.

Kades Panjang menjelaskan, lokasi proyek berada di wilayah perbatasan Bojonegoro – Nganjuk yang terkenal terjal dan jauh dari permukiman, “Medannya nanjak, kendaraan besar tidak bisa masuk. Untuk membawa material harus langsir berkali-kali. Biayanya otomatis naik,” Ungkapnya, Selasa (02/12/2025).

Pemerintah desa menyayangkan pemberitaan yang menyebut proyek tidak sesuai aturan. Menurut Kades, pihak luar tidak bisa menilai tanpa melihat dokumen resmi.

“RAB itu arsip desa. Tidak semua orang boleh mengakses. Kalau ada tuduhan tidak sesuai campuran atau volume, jelas itu tidak benar,” Tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa pihak yang membuat pemberitaan tidak memantau secara menyeluruh. “Jangan langsung menghakimi. Kami bekerja dengan kondisi yang sangat berat. Semua spesifikasi kami penuhi meski biaya di lapangan membengkak,” Tegas Kades.

Sementara ditempat yang berbeda, Ketua Tim Pelaksana (Timlak) Supartam menambahkan, bahwa tidak semua sopir berani mengantar material ke lokasi karena jalur sangat sulit, “Yang berani hanya sopir tertentu. Bahkan setelah sampai lokasi, kami masih harus menyewa Tossa dan tenaga kerja tambahan untuk langsir ulang,” Ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar adalah krisis air. Pengerjaan dilakukan pada musim kemarau, di mana Sendang yang biasanya menjadi sumber air warga justru sedang kering.

“Air untuk pengerjaan terpaksa beli. Satu jerigen 20 liter harganya Rp 5.000. Warga saja berebut air untuk kebutuhan harian, apalagi untuk proyek,” Tambah Supartam.

Kondisi inilah yang membuat pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama dan biaya tambahan. Meski begitu, Supartam memastikan ketebalan rabat beton tetap 8 cm dan lebar sesuai RAB, tidak ada pengurangan.

Ketua Timlak menyebut, orang yang datang ke lokasi hanya sebentar dan tidak melakukan pemeriksaan teknis. “Yang datang cuma moto papan nama, lalu pergi. Tidak melihat proses pengerjaan, tidak cek campuran, tidak cek volume. Bagaimana bisa langsung menyimpulkan,” Katanya heran.

Ia menegaskan bahwa bagian yang disebut ‘ngerambut’ atau retak halus hanya terjadi di beberapa titik kecil dan langsung diperbaiki.”Memang ada yang ngerambut karena faktor cuaca dan kondisi alam, tapi langsung kami perbaiki,” Pungkasnya. (Mariyadi)