SURABAYA – Kepedulian terhadap lingkungan terus ditunjukkan oleh generasi muda LDII Rungkut Kidul, Kota Surabaya.
Lewat aksi nyata, mereka menginisiasi Gerakan Bank Sampah sebagai upaya edukasi pengelolaan sampah sejak dini sekaligus solusi mengurangi persoalan sampah anorganik di lingkungan masyarakat.
Gerakan Bank Sampah ini resmi diluncurkan pada Minggu, 4 Januari 2025, dengan fokus pada pengelolaan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis, seperti plastik, kertas, kardus, dan logam.
Sampah-sampah tersebut dikumpulkan, dipilah, lalu disalurkan ke pengepul untuk didaur ulang.
Selain membantu mengurangi volume sampah, program ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan demi kesehatan bersama.
Salah satu penggerak muda LDII Rungkut Kidul, Rio Febrian, menjelaskan bahwa Bank Sampah menjadi langkah awal menanamkan kebiasaan memilah sampah dari rumah.
“Memisahkan sampah basah dan kering itu sebenarnya sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Kalau dilakukan sejak dari rumah, pengolahan sampah jadi lebih efektif dan lingkungan tetap terjaga,” jelasnya.
Tak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, Rio menambahkan bahwa pengelolaan sampah yang baik juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai, kalau dipilah dengan benar justru bisa menghasilkan. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” ungkapnya.
Setelah terkumpul, sampah anorganik diangkut menggunakan mobil pick-up untuk dijual ke pengepul.
Dana hasil penjualan sampah tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung program sosial dan kegiatan pemberdayaan lingkungan di wilayah Rungkut Kidul.
Ketua PC LDII Rungkut, Agus Setyoadji, mengapresiasi inisiatif generasi muda yang konsisten mendorong gerakan peduli lingkungan tersebut.
Menurutnya, Bank Sampah adalah sarana edukasi yang berdampak jangka panjang.
“Kami sangat mengapresiasi semangat generasi muda LDII Rungkut Kidul. Ini bukan hanya soal sampah, tapi tentang kepedulian menjaga bumi dan menciptakan lingkungan sehat sebagai bagian dari ibadah,” tutur Agus.
Ia berharap Gerakan Bank Sampah ini terus berkembang dan menjadi budaya di tengah masyarakat.
“Jika semua warga sadar pentingnya memilah dan mengelola sampah, lingkungan bersih dan sehat bukan lagi impian. Gerakan kecil seperti ini bisa membawa dampak besar,” tambahnya.
Ke depan, LDII Rungkut Kidul menargetkan Bank Sampah menjadi wadah edukasi berkelanjutan, khususnya bagi generasi muda.
Dengan demikian, kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dapat ditanamkan sejak dini, demi mewujudkan masyarakat yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. (dn)
































