JOGJAKARTA — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali meningkat dan menjadi perhatian serius lembaga pemantau kegunungapian.
Dalam laporan terbaru yang dirilis Minggu (23/11/2025), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sebanyak 22 guguran lava dalam rentang 24 jam, sebuah angka yang menunjukkan intensitas aktivitas magma masih tinggi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyebutkan bahwa guguran lava tersebut mengarah ke Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Beberapa di antaranya bahkan memiliki jarak luncur hingga 2.000 meter dari puncak.
“Aktivitas dominan masih berupa guguran lava ke sektor barat daya,” ungkap Agus dalam paparannya.
Secara visual, puncak Merapi masih jelas terlihat. Asap putih dengan tekanan lemah teramati naik ke udara di ketinggian 10–150 meter, memperlihatkan adanya suplai magma yang terus berlangsung di dalam kawah.
Cuaca di sekitar gunung terpantau dinamis berubah dari cerah, mendung, hingga berangin dengan arah tiupan ke barat dan timur.
Selain guguran lava, BPPTKG juga mencatat aktivitas kegempaan sebagai berikut, 105 gempa guguran, 64 gempa hybrid, 1 gempa tektonik jauh.
Frekuensi ini menunjukkan adanya pergerakan material vulkanik dari dalam tubuh gunung.
BPPTKG menegaskan bahwa sektor selatan barat daya masih menjadi wilayah paling berisiko terhadap guguran lava, awan panas, maupun lahar hujan.
Dengan suplai magma yang masih aktif, masyarakat di sekitar lereng Merapi diminta untuk tetap waspada terutama terhadap potensi awan panas guguran maupun banjir lahar dingin ketika hujan turun di area hulu.
Warga dilarang beraktivitas di zona bahaya dan diminta menjauhi aliran sungai yang berhulu ke Merapi.
“Gunung Merapi masih sangat aktif. Kewaspadaan adalah perlindungan terbaik,” tegas BPPTKG.
Gunung Merapi kembali menunjukkan bahwa dirinya belum tidur. Bagi masyarakat di sekitarnya, siaga dan waspada bukan pilihan melainkan keharusan. (Hes)
































