KUDUS – Insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis, 29 Januari 2026, menjadi perhatian luas publik.
Peristiwa ini bahkan viral di media sosial setelah beredar video dan foto kondisi siswa yang mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data sementara, sedikitnya 118 siswa SMAN 2 Kudus harus mendapatkan perawatan intensif di sejumlah fasilitas layanan kesehatan.
Dugaan awal mengarah pada menu makanan MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya.
Menanggapi ramainya pemberitaan, pihak SMAN 2 Kudus akhirnya memberikan klarifikasi resmi dan memaparkan kronologi kejadian melalui akun Instagram resmi sekolah, @sman_2_kudus, pada Jumat, 30 Januari 2026.
Dalam keterangan tertulis tersebut, pihak sekolah menjelaskan bahwa pada Rabu, 28 Januari 2026, seluruh siswa dan guru SMAN 2 Kudus menerima dan mengonsumsi menu dari program MBG.
Menu yang dibagikan berasal dari SPPG Purwosari dengan jumlah total 1.276 porsi.
Adapun menu yang disajikan meliputi nasi, tauge matang, ayam suwir, kuah soto, tempe goreng, sambal kecap, serta buah kelengkeng.
“Setelah MBG datang, langsung didistribusikan ke anak dan langsung dimakan,” tulis pihak sekolah.
Pihak sekolah juga menegaskan bahwa sebelum makanan dibagikan, sampel menu MBG telah diperiksa oleh petugas.
Saat itu, tidak ditemukan indikasi makanan bermasalah atau tidak layak konsumsi.
Meski demikian, beberapa jam setelah konsumsi MBG, sejumlah siswa dan guru mulai merasakan gangguan kesehatan.
Gejala awal seperti mual, muntah, dan diare dilaporkan muncul pada Rabu malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Kondisi tersebut terus berkembang hingga keesokan harinya.
Situasi di lingkungan sekolah mulai mengkhawatirkan pada Kamis pagi, 29 Januari 2026.
Sekitar pukul 07.30 WIB, banyak siswa terlihat bolak-balik meminta izin ke kamar mandi.
“Keadaan memburuk dengan banyak siswa yang antri di kamar mandi sekolah,” ungkap pihak SMAN 2 Kudus dalam pernyataannya.
Saat ditanya, mayoritas siswa mengeluhkan gejala yang hampir seragam, mulai dari perut mulas, pusing, hingga mual hebat.
Mengetahui kondisi tersebut, pihak sekolah segera menghubungi SPPG Purwosari. Respon cepat pun dilakukan.
“Selang lima menit setelah dihubungi, tim SPPG langsung datang ke sekolah untuk klarifikasi menu MBG,” tulis pihak sekolah.
Sekitar pukul 08.00 WIB, pihak sekolah berinisiatif membawa siswa yang mengalami keluhan ke Puskesmas Purwosari.
Namun, karena jumlah siswa yang sakit terus bertambah dan melebihi kapasitas awal, pihak puskesmas justru mengirimkan tim medis langsung ke sekolah sekitar pukul 09.00 WIB.
Para siswa kemudian dikumpulkan di Musholla sekolah untuk mendapatkan pemeriksaan, pengarahan, serta penanganan awal dari tenaga kesehatan.
Seiring berjalannya waktu, kondisi sebagian siswa semakin memburuk.
Selain diare dan muntah, beberapa siswa mengalami sesak napas hingga pingsan.
“Pukul 09.30 WIB, jumlah siswa yang mengalami gejala bertambah. Ada yang muntah, sesak napas, bahkan pingsan,” tulis pihak sekolah.
Situasi darurat ini membuat pihak terkait mengerahkan 52 unit ambulans yang mulai berdatangan sekitar pukul 10.00 WIB untuk merujuk siswa ke berbagai rumah sakit di Kudus dan sekitarnya.
Hingga Jumat, 30 Januari 2026 pukul 16.30 WIB, pihak SMAN 2 Kudus mencatat jumlah total yang terdampak mencapai 521 siswa dan 24 guru.
Sebagian besar telah mendapatkan perawatan dan pemantauan medis lanjutan.
Pihak sekolah menyatakan terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, SPPG, serta instansi terkait guna memastikan penanganan berjalan optimal dan kejadian serupa tidak terulang. (Red)
































