Beranda Daerah Jembatan Perbatasan Bojonegoro Lamongan Putus, Warga Terpaksa Bikin Akses Darurat

Jembatan Perbatasan Bojonegoro Lamongan Putus, Warga Terpaksa Bikin Akses Darurat

BOJONEGORO – Akses penghubung antara Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Lamongan di wilayah perbatasan hingga kini masih terputus tanpa kepastian penanganan.

Jembatan yang menghubungkan Desa Kendung, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro dengan Dusun Godok, Desa Talunrejo, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, rusak parah akibat diterjang banjir sekitar tiga bulan lalu.

Putusnya jembatan tersebut berdampak serius terhadap aktivitas warga Bojonegoro dan Lamongan.

Pasalnya, jembatan ini merupakan jalur poros desa yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, mulai dari aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga akses sosial antar wilayah.

Karena belum ada perbaikan dari pihak terkait, warga setempat akhirnya berinisiatif membangun jembatan darurat secara swadaya.

Dengan memanfaatkan sesek atau gedek dari anyaman bambu, warga bergotong royong menciptakan akses sementara agar aktivitas sehari-hari tetap bisa berjalan.

Namun, jembatan darurat tersebut jauh dari kata aman. Konstruksi bambu yang sederhana hanya mampu dilalui kendaraan roda dua serta mobil pribadi tanpa muatan.

Itupun harus dengan ekstra hati-hati karena jembatan bergoyang saat dilewati.

Wawan warga Desa Kendung mengungkapkan bahwa kondisi jembatan sebenarnya sudah mengalami kerusakan sejak lama, jauh sebelum akhirnya ambruk diterjang banjir.

“Sebelumnya jembatan memang sudah rusak. Sekitar tiga bulan lalu banjir datang dan sisi timur jembatan putus total. Sejak itu aktivitas warga jadi terganggu,” katanya, saat ditemui, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, hingga kini belum terlihat adanya langkah konkret perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro maupun Pemerintah Kabupaten Lamongan.

Menurutnya, posisi jembatan yang berada tepat di batas wilayah dua kabupaten diduga membuat penanganannya terkesan saling menunggu.

“Karena ini di perbatasan, sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami sebagai warga hanya bisa menunggu,” ujarnya.

Wawan juga menegaskan bahwa jembatan darurat yang dibuat warga hanya solusi sementara dan sangat berisiko jika digunakan kendaraan roda empat, terlebih yang bermuatan.

“Motor masih aman, mobil pribadi juga bisa tapi goyang. Kalau mobil bawa muatan jelas tidak boleh, sangat berbahaya,” jelasnya.

Warga berharap pemerintah daerah terkait segera turun tangan melakukan perbaikan permanen.

Mereka menilai keberadaan jembatan ini sangat vital sebagai penghubung antar desa sekaligus antar kabupaten, sehingga tidak layak dibiarkan berlarut-larut.

“Kami berharap ada perhatian serius. Ini akses utama masyarakat, bukan sekedar jalan kecil,” pungkasnya. (mia)