KLIK INDONESIA – Gunung Slamet bukan hanya gunung tertinggi di Jawa Tengah. Dengan ketinggian mencapai 3.432 meter di atas permukaan laut, gunung api aktif ini dikenal sebagai salah satu medan pendakian paling menantang di Pulau Jawa.
Berstatus stratovolcano tipe A, Gunung Slamet berdiri kokoh sebagai gunung tunggal raksasa yang wilayahnya membentang di lima kabupaten yaitu Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Karakter geografis inilah yang membuat Slamet memiliki kawasan vegetasi luas dan cuaca ekstrem yang kerap berubah drastis.
Gunung Slamet tercatat sebagai gunung dengan suhu rata-rata terdingin di Pulau Jawa, sekaligus salah satu wilayah dengan curah hujan tertinggi di Indonesia, mencapai lebih dari 8.000 milimeter per tahun.
Kombinasi suhu rendah, hujan lebat, dan kabut tebal menjadikan Slamet tak pernah bisa dipandang enteng.
Kabut di gunung ini dikenal sangat cepat berubah dan pekat, sering kali mengurangi jarak pandang hingga hanya beberapa meter faktor yang kerap menyulitkan navigasi pendaki.
Secara geologis, Gunung Slamet terbentuk akibat proses subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Catatan sejarah menunjukkan, Gunung Slamet telah mengalami puluhan kali erupsi sejak tahun 1700, dengan aktivitas letusan kecil yang terjadi secara periodik.
Letusan terakhir tercatat pada 2014, ketika status gunung sempat dinaikkan akibat peningkatan aktivitas vulkanik.
Kawah IV hingga kini masih menjadi kawah aktif yang terus dipantau.
Meski jarang meletus besar, Gunung Slamet tetap dikategorikan sebagai gunung api aktif yang memiliki potensi bahaya alam.
Gunung Slamet cukup populer di kalangan pendaki, namun dikenal memiliki jalur yang berat dan minim sumber air.
Jalur klasik Bambangan di Purbalingga menjadi rute favorit, disusul jalur Baturraden, Guci, hingga Dipajaya di Pemalang yang relatif baru.
Pendaki dituntut membawa logistik air dari bawah karena hampir sepanjang jalur tidak tersedia sumber air alami.
Selain itu, cuaca ekstrem dan medan panjang menjadikan Slamet sebagai gunung yang menuntut fisik dan mental prima.
Di balik kerasnya medan, Gunung Slamet menyimpan kekayaan alam luar biasa.
Kawasan hutan hujan tropis, hutan montana, hingga hutan ericaceous menjadi habitat beragam flora dan fauna.
Di kaki gunung, terdapat destinasi wisata populer seperti Baturraden di Banyumas dan pemandian air panas Guci di Tegal, yang menjadi penyangga ekonomi dan pariwisata masyarakat sekitar.
Nama “Slamet” diyakini berasal dari bahasa Jawa yang berarti selamat.
Dalam kepercayaan lokal, gunung ini dipercaya tidak akan meletus besar.
Bahkan beredar mitos bahwa jika Gunung Slamet mengalami letusan dahsyat, Pulau Jawa akan terbelah.
Kepercayaan ini memperkuat posisi Gunung Slamet bukan hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Tengah. (Red)































