JAKARTA, KLIKINDONESIA – Suasana penuh semangat mewarnai Seminar Sehari Koalisi Serikat Pekerja Partai Buruh (KSP–PB) bertema “Kobarkan Semangat Perjuangan Marsinah yang Telah Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional”, yang digelar di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (12/11/2025).
Dalam momentum bersejarah itu, Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (FARKES KSPI) turut hadir bersama ratusan aktivis buruh dari berbagai sektor.
Sekitar 300 peserta yang terdiri atas perwakilan Partai Buruh, Koalisi Serikat Pekerja/Serikat Buruh (SP/SB), serta Koalisi Kerakyatan memadati ruangan untuk menggaungkan kembali semangat perjuangan Marsinah ikon keberanian buruh perempuan Indonesia.
Koalisi Serikat Pekerja Partai Buruh (KSP–PB) bukanlah aliansi biasa. Ia merupakan kekuatan besar yang menyatukan Partai Buruh, 63 federasi dan konfederasi serikat pekerja, serta 9 organisasi rakyat lintas sektor, mewakili lebih dari 10 juta anggota di 38 provinsi dan 493 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Koalisi ini menaungi beragam elemen masyarakat mulai dari buruh pabrik, petani, nelayan, tenaga medis, guru honorer, pekerja migran, ojol, hingga pelaut dan konten kreator.
Semuanya bersatu dalam satu visi, memperjuangkan keadilan sosial, ekonomi, dan politik untuk rakyat kecil.
Seminar ini menjadi ajang refleksi atas penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional, sekaligus menghidupkan kembali semangat perjuangan yang diwariskannya.
Marsinah buruh perempuan muda yang gugur karena menuntut hak-hak pekerja pada era 1990-an, kini menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan dan ikon keberanian buruh Indonesia.
Para narasumber yang hadir turut memperkuat pesan tersebut. Mereka antara lain, Jumisih, aktivis buruh perempuan, membahas RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), Muhamad Ridho (Partai Buruh), Ikhsan Raharjo (Sindikasi), dan Indrasari Tjandraningsih (Serikat Pekerja Kampus), yang mengulas Nilai-Nilai Kepahlawanan Marsinah, Eva Sundari, yang memaparkan Bagaimana Marsinah Bisa Lolos Sebagai Pahlawan Nasional.
Sementara itu, Djufnie Ashary, Presiden FARKES KSPI yang kini berusia 85 tahun dan merupakan saksi hidup perjuangan buruh era Marsinah, menjadi penanggap utama yang memberikan pandangan mendalam.
“Marsinah bukan sekadar nama, tapi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Saya menyaksikan sendiri keberaniannya yang mengguncang kesadaran bangsa,” ujar Djufnie.
Presidium Koalisi Serikat Pekerja Partai Buruh menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengenang sejarah, tetapi juga memperkuat konsolidasi politik kelas pekerja.
“Semangat Marsinah harus terus hidup dalam perjuangan kita hari ini. Ia adalah simbol keberanian dan keteguhan hati buruh Indonesia,” tegas perwakilan presidium dalam sambutannya.
Melalui kegiatan ini, KSP PB berkomitmen memperluas solidaritas lintas sektor dan memperkuat gerakan buruh perempuan serta rakyat kecil menuju perubahan sosial yang lebih adil.
Seminar di Gedung Joang ’45 itu bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia menjadi seruan kebangkitan baru bagi gerakan buruh Indonesia untuk meneruskan api perjuangan Marsinah dari pabrik ke parlemen, dari jalanan ke kebijakan. (dpw)
































