NAMA MEDIA – Di antara anugerah terindah yang Allah titipkan kepada seorang hamba adalah kemampuan untuk mencintai Rasulullah SAW dengan sepenuh hati.
Cinta itu bukan rasa biasa ia adalah suluh iman yang menerangi relung hati, meneguhkan langkah hidup, dan menuntun seorang Muslim menuju jalan yang penuh berkah.
Saat hati mulai merindukan sosok Rasulullah, ketika jiwa ingin lebih dekat dengan akhlak beliau itulah tanda lembutnya hidayah tengah menyapa.
Cinta kepada Nabi melahirkan keinginan untuk memperbaiki diri, memperindah akhlak, serta menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Inilah kelezatan iman yang hanya dirasakan oleh hati yang hidup.
Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Karena itu, kecintaan kepada beliau tidak berhenti di bibir, tetapi tercermin melalui tindakan, kejujuran dalam setiap kata, kesabaran ketika diuji, kedermawanan tanpa pamrih, kelapangan dada untuk memaafkan dan kepedulian dalam hubungan sosial.
Semakin kita meneladani akhlak beliau, semakin terang cahaya cinta itu dalam kehidupan kita.
Rasulullah SAW merupakan pembawa wahyu, pembimbing umat, dan panutan utama dalam seluruh aspek kehidupan.
Tidak mungkin seseorang memahami Islam secara sempurna tanpa mencintai dan mengikuti beliau.
Allah SWT menegaskan, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku; niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31).
Ayat ini menjadi bukti bahwa kecintaan kepada Allah berjalan seiring dengan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Meneladani beliau adalah kunci meraih kasih sayang dan ampunan nya.
Cinta kepada Rasulullah SAW adalah pondasi utama perjalanan spiritual seorang Muslim.
Dari cinta itu tumbuh akhlak yang baik, ketakwaan yang kuat, dan harapan besar untuk mendapatkan syafaat beliau di hari akhir.
Semoga Allah menjaga api cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW, menjadikannya tidak pernah padam, serta mempertemukan kita bersama beliau di surga-Nya.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad. (dpw)
Jakarta, 12 Desember 2025
Oleh: Prof. Dr. H. Fernadya Sima Antasari, Lc., MA., MBA.































