Beranda Daerah Pasar Bandeng Gresik: Tradisi Songolikur yang Menggerakkan Ekonomi dan Menjaga Warisan Walisongo

Pasar Bandeng Gresik: Tradisi Songolikur yang Menggerakkan Ekonomi dan Menjaga Warisan Walisongo

GRESIK – Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana di Kabupaten Gresik berubah menjadi lautan manusia.

Dua malam terakhir sebelum takbiran yang oleh warga Gresik disebut malam “songolikur” menjadi puncak kemeriahan Tradisi Pasar Bandeng, agenda tahunan yang tak sekedar jual beli ikan, tetapi juga simbol kuat warisan budaya dan kebangkitan ekonomi rakyat.

Tradisi ini bukan hanya pesta rakyat biasa. Ia adalah denyut sejarah Gresik yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Pasar Bandeng digelar tepat di penghujung Ramadan. Warga Gresik tumpah ruah memenuhi pusat kota untuk berburu bandeng kualitas terbaik sebagai hidangan khas Lebaran.

Lampu-lampu pasar terpancar, aroma laut bercampur euforia kemenangan menyambut Idul Fitri.

Momen ini menjadi ruang temu lintas generasi, petambak, pedagang, pembeli, hingga wisatawan luar daerah yang bersama-sama merayakan tradisi penuh makna.

Tradisi Pasar Bandeng diyakini telah ada sejak abad ke-15 dan dipelopori oleh Sunan Giri, salah satu tokoh Walisongo di Gresik yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa.

Kala itu, pasar digagas sebagai solusi sosial ekonomi untuk membantu masyarakat Gresik yang mengalami keterbatasan pangan dan ketidakstabilan ekonomi.

Sunan Giri mendorong warga Gresik untuk mengolah hasil tambak, memperkuat perdagangan, dan membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Spirit itulah yang terus bertahan hingga kini, tradisi sebagai penggerak kesejahteraan.

Setiap kali Pasar Bandeng digelar, efek ekonominya terasa nyata.

Ribuan pengunjung datang, bukan hanya dari Gresik, tetapi juga dari luar kota.

Dampaknya, penjualan bandeng melonjak drastis, UMKM kuliner dan produk lokal ikut terdongkrak, pedagang musiman meraup keuntungan signifikan, sektor transportasi dan parkir ikut bergerak, perputaran uang dalam dua malam itu mampu menghidupkan banyak dapur warga pesisir yang menggantungkan hidup pada budidaya bandeng.

Salah satu magnet utama Pasar Bandeng di Gresik adalah lelang bandeng terbesar dan terberat.

Ikan-ikan berukuran jumbo dipamerkan dan dilelang dengan harga fantastis, bahkan mencapai jutaan rupiah.

Ajang ini bukan sekedar tontonan. Ia menjadi motivasi bagi para petambak untuk terus meningkatkan kualitas budidaya.

Bandeng Gresik dikenal memiliki tekstur daging yang lembut, tidak berbau tanah, dan ukuran yang relatif lebih besar dibanding daerah lain. Inilah identitas lokal yang dibanggakan.

Pasar Bandeng Gresik bukan pasar ikan biasa. Ia adalah warisan budaya yang hidup, simbol penghormatan terhadap ajaran Walisongo, penggerak ekonomi rakyat, ajang promosi potensi daerah.

Pemerintah Kabupaten Gresik pun terus mendorong pengembangan dan promosi tradisi ini agar semakin dikenal luas, bahkan hingga mancanegara.

Melestarikan Pasar Bandeng berarti menjaga sejarah, identitas, sekaligus masa depan ekonomi masyarakat pesisir.

Tradisi ini bukan hanya tentang bandeng. Ia tentang kebersamaan, keberkahan, dan keberlanjutan. (dn)