BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menggelar panen perdana demplot padi varietas unggul Gamagora 7, Sabtu (28/2/2026).
Kegiatan ini dipusatkan di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.
Panen perdana ini bagian dari langkah strategis menjadikan Bojonegoro sebagai lumbung padi berdaya saing nasional dengan target produktivitas hingga 11 ton per hektare.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani, dalam sambutannya mengungkapkan capaian produksi padi tahun 2025 menunjukkan lonjakan signifikan.
“Produksi padi tahun 2025 mencapai 886.443 ton dari sebelumnya 710.502 ton. Artinya ada peningkatan sebesar 176.916 ton atau naik 24,7 persen,” jelasnya.
Menurutnya, capaian tersebut tak lepas dari faktor iklim yang mendukung. Kemarau yang seharusnya kering justru menjadi kemarau basah, sehingga meningkatkan luas tambah tanam di Bojonegoro sekitar 10 hektare.
Namun demikian, keberhasilan ini juga didukung kerja keras pemerintah daerah dalam penguatan infrastruktur pertanian di Kabupaten Bojonegoro.
Pada tahun 2025, Pemkab Bojonegoro melalui dinas terkait membangun dan menormalisasi irigasi sepanjang 24.248 meter, melakukan normalisasi dua pertiga embung, serta membangun 16 titik irigasi pompa (IRPOM).
“Meski curah hujan tinggi, kita bisa mengendalikan risiko banjir. Ini bentuk keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas produksi,” tegas Zaenal.
Menariknya, sepanjang tahun 2025 Bojonegoro berhasil terbebas dari serangan hama dan penyakit tanaman, di saat beberapa daerah lain seperti Nganjuk dan Blora mengalami gangguan serius pada sektor pertanian.
Peningkatan intensitas pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi kunci.
Jika pada Februari tingkat kunjungan baru 26 persen, pada Maret melonjak menjadi 99 persen.
Selain itu, sistem pengamatan dini hama dan penyakit juga diperkuat sehingga potensi serangan bisa dicegah sebelum meluas.
“Alhamdulillah, tahun 2025 kita selamat dari serangan hama dan penyakit,” ujarnya.
Kolaborasi bersama UGM kini diperluas melalui demplot padi Gamagora 7 di lima kecamatan, yakni Dander, Kepohbaru, Ngasem, Sugihwaras, dan Kedungadem.
Varietas Gamagora 7 dinilai memiliki potensi produktivitas tinggi dan adaptif terhadap kondisi lahan di Bojonegoro.
Zaenal optimis, jika varietas ini dikembangkan secara masif di seluruh wilayah, produktivitas bisa mencapai 10–11 ton per hektare.
“Kalau ini berhasil kita perluas, Bojonegoro berpeluang menjadi daerah dengan hasil panen tertinggi di Indonesia,” tegasnya penuh optimisme.
Momentum panen perdana ini juga dibarengi dengan deklarasi komitmen menjadikan Bojonegoro sebagai wilayah produksi padi 11 ton per hektare.
Langkah tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Sinergi pemerintah daerah, akademisi, aparat keamanan, dan kelompok tani menjadi fondasi kuat menuju target tersebut.
Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Bojonegoro akan mencatat sejarah baru sebagai salah satu sentra produksi padi tertinggi di Indonesia.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah, didampingi Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro Abdulloh Umar, Komandan Kodim 0813 Bojonegoro, Kapolres Bojonegoro, serta jajaran Forkopimda.
Turut hadir pula, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, SP, MSc, Ph.D, Sekretaris Daerah, Kepala BPS Bojonegoro, Kepala DKPP, Camat Kepohbaru, kepala desa se-Kecamatan Kepohbaru, hingga kelompok tani dan Gapoktan. (mia)
































