Beranda Pemerintahan SEPATU KACA Resmi Dimulai, Ratusan Perempuan Tuban Siap Jadi Penggerak Ekonomi dan...

SEPATU KACA Resmi Dimulai, Ratusan Perempuan Tuban Siap Jadi Penggerak Ekonomi dan Perlindungan Anak

TUBAN — Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A serta PMD) Kabupaten Tuban kembali meluncurkan langkah progresif bagi pelaku UMKM perempuan melalui workshop Sekolah Perempuan Tuban Keluarga Aman, Sejahtera, dan Cinta Anak atau yang dikenal dengan nama SEPATU KACA.

Kegiatan ini digelar di salah satu kafe di Tuban dan berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, 24–26 November 2025.

Sebanyak 40 peserta yang merupakan pembatik dan pelaku usaha tenun gedog Tuban dari sejumlah kecamatan turut hadir. Selain peserta, acara ini juga dihadiri Ketua Forum PUSPA Tuban yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Tuban, Sri Rahayu.

Dalam sambutan pembuka, Kepala Dinsos P3A serta PMD Kabupaten Tuban, Sugeng Purnomo, menegaskan bahwa program ini lahir sebagai jawaban atas tantangan sosial yang masih dihadapi perempuan dan anak di Tuban.

“Tidak sedikit perempuan yang memainkan peran ganda untuk menopang ekonomi keluarga sekaligus menjalankan fungsi domestik,” ujar Sugeng.

Menurutnya, tekanan tersebut kerap memicu persoalan emosional, komunikasi, hingga munculnya rentetan masalah dalam keluarga.

Sugeng juga menyampaikan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih ditemukan dan sebagian besar berawal dari ketidakmampuan keluarga dalam mengelola tekanan kehidupan.

“Padahal keluarga seharusnya menjadi ruang paling aman. Namun realitanya, terkadang justru di sanalah muncul risiko kekerasan,” ungkapnya.

Karena itu, Pemkab Tuban melalui Dinsos P3A serta PMD berkomitmen memperkuat program yang tidak hanya meningkatkan kapasitas perempuan, tetapi juga menciptakan ekosistem perlindungan anak berbasis keluarga dan komunitas.

Program SEPATU KACA dirancang sebagai ruang belajar, penguatan karakter, pendampingan usaha, hingga pengembangan mental kepemimpinan perempuan.

“Lewat program ini, para pelaku industri batik dan IKM diharapkan tidak hanya berkembang secara keahlian, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak besar bagi lingkungannya,” tegas Sugeng.

Ia menutup sambutannya dengan ajakan untuk mengikuti seluruh rangkaian workshop dengan antusias, saling memberdayakan, dan menerapkan ilmu yang diperoleh.

Sugeng berharap setelah kegiatan ini terbentuk komunitas perempuan UMKM batik dan tenun Tuban yang lebih solid, berdaya, mandiri, serta mampu menjadi figur inspiratif dalam keluarga dan masyarakat.

“Semoga dari sini lahir perempuan-perempuan tangguh yang sukses dalam usaha, kuat dalam keluarga, dan peka terhadap perlindungan anak,” pungkasnya. (an/er/yin/mi)